Senin, 08 Oktober 2012

Prinsip Meode SRI

Secara umum dalam konsep SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, tidak diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi.  Semua potensi tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.  Hal ini karena SRI menerapkan konsep sinergi, dimana semua komponen teknologi SRI berinteraksi secara positif dan saling menunjang sehingga hasil secara keseluruhan lebih banyak daripada jumlah masing-masing bagian.  Menurut Berkelaar (2001), Kuswara (2003) dan Wardana et al, (2005) terdapat beberapa komponen penting dalam penerapan SRI yaitu :
1.   Bibit dipindah lapangan (Transplantasi) lebih awal (bibit muda).
2.   Bibit ditanam satu batang per lubang tanam.
3.   Jarak tanam lebar.
4.   Kondisi tanah tetap lembab tapi tidak tergenang air (irigasi berselang)
5.   Menggunakan pupuk dari bahan organik kompos dan mikro organisme local (MOL)
6.   Dilakukan Penyiangan/pendangiran

Hal paling mendasar dalam budidaya SRI adalah menerapkan irigasi intermitten artinya siklus basah kering bergantung pada kondisi lahan, tipe tanah dan ketersediaan air.  Selama kurun waktu penanaman lahan tidak tergenang tetapi macak-macak (basah tapi tidak tergenang).  Cara ini bisa menghemat air 46%.  Selain itu sedikitnya air juga mencegah kerusakan akar tanaman.  Menurut  Simarmata dalam Trubus 2008, Penggenangan air menyebabkan kerusakan jaringan perakaran akibat terbatasnya suplay oksigen.  Semakin tinggi air semakin kecil oksigen terlarut,  dampaknya akar tanaman tidak mampu mengikat oksigen sehingga jaringan perakaran rusak.  Selain itu jika air tergenang menyebabkan musuh alami hama padi tidak dapat hidup sedangkan hama padi dapat hidup dan dapat memunculkan hama padi baru yang berasal dari lingkungan aquatik.
Posting Komentar