Laman

Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2016

Penyakit Layu Stewart (Stewart Wilt) Pada Tanaman Jagung

Penyakit layu stewart pada tanaman jagung disebabkan oleh bakteri Pantoea stewartii subsp.stewartii (Pss) merupakan penyakit penting dan baru di Indonesia. Penyakit ini tergolong berbahaya, di Amerika Serikat dilaporkan dapat menyebabkan kehilangan hasil berkisar antara 15-95%. Penyakit layu stewart merupakan penyakit tular benih yang penting pada jagung, karena benih merupakan alat transportasi yang paling cocok untuk menyebar melintasi batasan alaminya (Neergaard, 1977). Saat ini penyakit layu stewart tersebar di banyak negara seperti Eropa (Austria), Amerika (Bolivia, Brazil, Canada, Costa Rica, Guyana, Mexico, Peru, Puerto Rica, dan USA), Asia (Cina, India, Malaysia, Thailand, Vietnam), (Shurtleff,1980). Resiko dari penularan patogen melalui benih sangatlah penting, terutama dalam pengiriman benih internasional. Lebih dari 50 negara telah melarang impor benih jagung dari Amerika Serikat.

Berdasarkan peraturan Menteri Pertanian nomor 51/Permentan/KR.010/9/2015, Bakteri ini termasuk ke dalam Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) Kategori A1 dan Golongan 1. Penyakit ini sudah ditemukan di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Lombok. Khairul dan Rahma (2007) telah mendeteksi keberadaan bakteri ini di pertanaman jagung di Sumatera Barat dengan insidensi penyakit berkisar 4-10%. Dengan semakin meningkatnya lalu lintas perdagangan benih dewasa ini dan belum memadainya perangkat pengujian kesehatan benih di Indonesia, dikhawatirkan penyakit ini telah masuk dan tersebar. Penyakit layu stewart tergolong sulit dikendalikan, karena menyerang tanaman pada berbagai fase pertumbuhan, bersifat tular benih dan tular serangga. Sampai saat ini usaha pengendalian penyakit ini masih menggunakan insektisida sintetis yang mengandung imidachlopriod untuk seed treatment (Stack, et al, 2006), namun dikhawatirkan penggunaan bahan ini akan mempercepat pencemaran lingkungan. Sesuai dengan program pertanian berkelanjutan yang diterapkan di Indonesia maka teknik pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) harus mengacu pada Pengendalian Hama dan Penyakit secara Terpadu (PHT). Salah satu komponen utama dari program PHT adalah pengendalian hayati dengan memanfaatkan agensia pengendalian hayati indigenous. Keuntungan penggunaan agensia hayati antara lain: dapat diperbaharui, memanfaatkan sumber daya lokal, dapat diperbanyak dengan teknologi yang sederhana dan mudah cara aplikasinya.


1. Gejala Penyakit
Gejala penyakit stewart yang ditemukan di lapangan cukup beragam, mulai dari tanaman layu, kerdil dengan adanya garis hijau pucat kekuningan yang memanjang pada permukaan daun dan gejala hawar berupa bercak memanjang di sepanjang pertulangan daun dan pinggirnya mengalami nekrosis. Beragamnya gejala serangan yang muncul di lapangan merupakan ciri khas dari kasus Pantoea stewartii. (Yang, 2000; Thomas, 2002; Luebker L, 2003; Stack et al, 2006) mengemukakan bahwa secara umum penyakit layu stewart terdiri atas dua fase: pertama terjadi pada tanaman muda dan yang kedua terjadi pada tanaman dewasa terutama setelah munculnya malai. Pada tanaman muda luka water soaking yang panjang terdapat di sepanjang daun (Luebker, 2003; Stack et al, 2006). Daun memperlihatkan garis hijau pucat sampai kuning (Gambar 1). Fase kedua dari penyakit stewart terjadi setelah munculnya malai. Infeksi hanya bersifat lokal (Yang, 2000). Umumnya gejala berupa bercak pada daun, bercak berupa goresan hijau sampai kuning dengan pinggiran yang tak beraturan dan bergelombang di sepanjang tulang daun dan juga di seluruh permukaan daun. Pada beberapa kasus, permukaan daun akan kering dan mati dengan gejala seperti kekurangan nutrisi (Gambar 2). Bakteri Pantoea stewartii subsp. Stewartii selain dapat terbawa oleh benih, juga dapat bertahan di dalam tanah dan batang jagung. Bakteri ini dapat ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain dengan perantaraan vektor Chaetocnema pulicaria. Bakteri yang sudah ada dalam tubuh vektor Chaetocnema pulicaria akan dapat bertahan di sepanjang hidupnya. Selain itu Diabrotica undecempunctata howardi (serangga dewasa dan larva), Chaetocnema denticulata, larva Delia platura, Agriotes mancus, Phyllophaga sp. dan larva Diabrotica longicornis dapat menjadi vektor bakteri Pantoea stewartii subsp. Stewartii. Kandungan unsur hara N dan P yang tinggi dapat meningkatkan intensitas serangan dari penyakit ini, sedangkan kandungan Ca dan K yang tinggi cenderung dapat menekan terjadinya serangan Pantoea stewartii. Suhu udara yang tinggi juga dapat memperparah serangan penyakit layu stewart. Isolat Pantoea stewartii subsp. Stewartii berwarna kuning, tidak motil (non motile), tidak mengasilkan spora (non sporing), gram negatif dan berukuran 0.4-0.7 x 0.9-2.0 µm.
3. Pengendalian
Pengendalian penyakit layu stewart dapat dilakukan dengan cara penggunaan varietas yang tahan, benih yang bebas penyakit (diseases-free seed), penggunaan agensia hayati sebagai bioseed treatment diantaranya adalah Bacillus polymixa (Aspiras dan Crus, 1985), Pseudomonas fluorescens (Machmud, 1985), strain avirulen dari Ralstonia solanacearum (Chen and Echandi, 1984 ; Khairul et al, 2001), dan Bacillus subtilis (Khairul, 2005). Bacillus spp. telah banyak dilaporkan mampu mengimunisasi berbagai jenis tanaman terhadap berbagai jenis patogen ataupun serangga (Bargabus et al, 2004). Guo et al. (1987) menyatakan bahwa dengan melakukan penyimpanan benih pada suhu 8-15 ºC selama 200-250 hari dan diikuti dengan penyimpanan pada suhu 20-25 ºC selama 110-120 hari dapat mengeliminasi bakteri Pantoea stewartii subsp. stewartii .
Sumber: BBPOPT

Jumat, 22 Mei 2015

Panen Kacang Panjang Di SMK Negeri 1 Lembah Sorik Marapi

Salah satu jurusan di SMK Negeri 1 Lembah Sorik Marapi yaitu Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura atau lebih dikenal dengan jurusan ATPH. Tiap semesternya jurusan ini selalu membudidayakan berbagai jenis komoditi baik komoditi pangan maupun hortikultura sebagai bahan praktek langsung siswa, pada semester genap T.A 2014-2015 ini jurusan ini telah menanam tanaman kacang panjang, terong, semangka, daun bawang, dll. Untuk mendukung berjalannya proses praktek ini dengan baik, maka sekolah menyediakan lahan praktek yang luas dan rumah kaca sederhana. Pada kali ini kelas XI ATPH melakukan panen kacang panjang dan terong.

Pengumpulan Hasil Panen
 
Sortasi Hasil Panen
 Hasil Panen
Hasil Panen Siap Dipasarkan

Rabu, 11 Maret 2015

Tanaman Melon



Melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah termasuk famili Cucurbitaceae, banyak yang menyebutkan buah melon berasal dari Lembah Panas Persia atau daerah Mediterania yang merupakan perbatasan antara Asia Barat dengan Eropa dan Afrika. Dan tanaman ini akhirnya tersebar luas ke Timur Tengah dan ke Eropa. Pada abad ke-14 melon dibawa ke Amerika oleh Colombus dan akhirnya ditanam luas di Colorado, California, dan Texas. Akhirnya melon tersebar keseluruh penjuru dunia terutama di daerah tropis dan subtropis termasuk Indonesia.

Gambar Buah Melon

 Taksonomi tanaman melon:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitales
Family : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis melo L.
 Dari segi ilmu taksonomi tumbuhan, tanaman melon (Cucumis melo L.) tergolong dalam famili Cucurbitaceae genus Cucumis. Secara umum melon dikelompokkan ke dalam dua tipe utama, yaitu netted melon (melon berjala) dan winter melon (melon tidak berjala). Dalam klasifikasi secara botani, melon yang dibudidayakan terbagi dalam tiga grup varietas, yaitu Cucumis melo var. Reticulatus (muskmelon), Cucumis melo var. Cantaloupensis (cantaloup) dan Cucumis melo var. Inodorus. Varietas Reticulatus dan Cantaloupensis merupakan tipe netted melon, sedangkan varietas Inodorus merupakan tipe winter melon.
Melon merupakan tanaman semusim (annual) dengan batang berbentuk segilima tumpul, menjalar bercabang banyak, berbulu. Daun melon lebar bercanggap (berlekuk), bergelombang dan menjari agak pendek. Batang melon mempunyai alat pemegang (pilin) untuk memanjat. Tanaman melon mempunyai akar tunggang dan akar samping banyak serta agak dalam. Akar samping berupa serabut yang jumlahnya banyak, kuat, dan panjang.
Tanaman melon pada umumnya bersifat andromonoecious (memiliki bunga jantan dan bunga sempurna pada satu tanaman). Bunga jantan muncul berkelompok pada ketiak daun, sedangkan bunga sempurna muncul pada ruas pertama dari setiap cabang lateral. Meskipun menghasilkan bunga sempurna dengan putik dan benangsari, penyerbukan sendiri (self pollination) tidak dapat terjadi. Lebah madu dan serangga berperan dalam penyerbukan bunga karena serbuk sari yang dihasilkan bunga melon terlalu berat untuk diterbangkan oleh angin. Jumlah, ukuran dan tingkat kemanisan melon meningkat dengan peningkatan jumlah penyerbukan yang dilakukan oleh serangga lebah madu. 
Melon merupakan salah satu buah yang banyak disediakan dalam setiap jamuan makan sebagai hidangan pencuci mulut. Rasa melon yang khas menjadikan buah ini semakin digemari hampir segenap lapisan masyarakat. Melon saat ini tidak hanya dikonsumsi sebagai buah segar saja. Selain sebagai buah meja, melon juga dihidangkan dalam bentuk jus melon di restoran-restoran. Berbagai produk makanan maupun minuman, seperti sirup dan permen, menyajikan melon sebagai pilihan rasa. Bahkan anak-anak mulai dimanjakan produsen susu cair dengan adanya susu cair dengan rasa melon.

Selasa, 21 Oktober 2014

Dampak Penggunaan Pestisida



 Dalam era globalisasi, aspek pelestarian lingkungan hidup dan perlindungan konsumen, terutama terhadap kemungkinan kontaminasi/pencemaran sejumlah bahan kimia, telah menjadi isu sentral di berbagai negara, baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Hanya komoditas yang telah teruji aman bagi konsumen dan tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan yang mampu bersaing di pasaran internasional.
 OPT merupakan salah satu faktor pembatas dalam usaha peningkatan produksi pertanian. OPT dapat menyerang tanaman sejak mulai pembibitan, pertanaman bahkan sampai pada penyimpanan. Salah satu upaya untuk menghindarkan kerusakan tanaman yang menyebabkan kerugian secara ekonomi digunakan pestisida. Penggunaan pestisida berkembang pesat sejak dekade enam puluhan dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam pertanian.
Penggunaan pestisida ditujukan untuk menekan populasi OPT secara cepat dibandingkan metode pengendalian lainnya. Karena keunggulan pestisida tersebut, kenyataan di lapangan petani menggunakan pestisida secara berjadwal (sistem kalender). Akibat dari penggunaan pestisida secara terus-menerus dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan, baik lingkungan perairan, tanah, udara maupun makhluk hidup yang bukan sasaran.
Pestisida masih diperlukan dalam kegiatan pertanian. Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Berikut ini diuraikan beberapa dampak negatif yang mungkin timbul akibat penggunaan pestisida dalam bidang pertanian, yang tidak sesuai dengan aturan.
1. Pencemaran air dan tanah
Di lingkungan perairan, pencemaran air oleh pestisida terutama terjadi melalui aliran air dari tempat kegiatan manusia yang menggunakan pestisida dalam usaha mena ikkan produksi pertanian dan peternakan. Jenis-jenis pestisida yang persisten (DDT, Aldrin, Dieldrin) tidak mengalami degradasi dalam tanah, tapi malah akan berakumulasi. Dalam air, pestisida dapat mengakibatkan biology magnification, pada pestisida yang persisten dapat mencapai komponen terakhir, yaitu manusia melalui rantai makanan. Pestisida dengan formulasi granula, mengalami proses dalam tanah dan air sehingga ada kemungkinan untuk dapat mencemari tanah dan air.
2. Pencemaran udara
Pestisida yang disemprotkan segera bercampur dengan udara dan langsung terkena sinar matahari. Pestisida dapat mengalami fotodekomposisi di udara. Pestisida mengalami perkolasi atau ikut terbang menurut aliran angin. Makin halus butiran larutan makin besar kemungkinan ikut perkolasi dan makin jauh ikut diterbangkan arus angin.
  3. Timbulnya spesies hama yang resisten
Spesies hama yang akan diberantas dapat menjadi toleran terhadap pestisida, sehingga populasinya menjadi tidak terkendali. Ini berarti bahwa jumlah individu yang mati sedikit sekali atau tidak ada yang mati, meskipun telah disemprot dengan pestisida dosis normal atau dosis lebih tinggi sekalipun. Populasi dari spesies hama dapat pulih kembali dengan cepat dari pengaruh racun pestisida serta bias menimbulkan tingkat resistensi pestisida tertentu pada populasi baru yang lebih tinggi, hal ini biasanya disebabkan oleh pestisida golongan organoklorin.
4. Timbulnya spesies hama baru atau ledakan hama sekunder
Penggunaan pestisida yang ditujukan untuk memberantas jenis hama tertentu, bahkan dapat menyebabkan munculnya jenis hama yang lain. Ledakan hama sekunder tersebut dapat terjadi beberapa saat setelah penggunaan pestisida, atau pada akhir musim tanam atau malah pada musim tanam berikutnya. Ledakan hama sekunder dapat lebih merusak daripada hama sasaran sebelumnya.
5. Resurgensi
Bila suatu jenis hama setelah memperoleh perlakuan pestisida berkembang menjadi lebih banyak dibanding dengan yang tanpa perlakuan pestisida, maka fenomena itu disebut resurgensi. Faktor penyebab terjadinya resurgesi antara lain adalah (a) butir semprotan pestisida tidak sampai pada tempat hama berkumpul dan makan; (b) kurangnya pengaruh residu pestisida untuk membunuh nimfa hama yang menetas sehingga resisten terhadap pestisida; (c) predator alam mati terbunuh pestisida; (d) pengaruh fisiologis insektisida kepada kesuburan hama. Hama bertelur lebih banyak dengan angka kematian hama yang menurun; (e) pengaruh fisiologis pestisida kepada tanaman sedemikian rupa sehingga hama dapat hidup lebih subur (Djojosumarto, 2000)..
6. Merusak keseimbangan ekosistem
Penggunaan pestisida seperti insektisida, fungisida dan herbisida untuk membasmi hama tanaman, hewan, dan gulma (tanaman benalu) yang bisa mengganggu produksi tanaman sering menimbulkan komplikasi lingkungan (Supardi, 1994). Penekanan populasi insekta hama tanaman dengan menggunakan insektisida, juga akan mempengaruhi predator dan parasitnya, termasuk serangga lainnya yang memangsa spesies hama dapat ikut terbunuh. Misalnya, burung dan vertebrata lain pemakan spesies yang terkena insektisida akan terancam kehidupannya. Sehingga dengan demikian bersamaan dengan menurunnya jumlah individu spesies hama, menurun pula parasitnya. Sebagai contoh misalnya kasus di Inggris,, dilaporkan bahwa di daerah pertanian dijumpai residu organochlorin yang tidak berpengaruh pada rodentia tanah . Tapi sebaliknya, pada burung pemangsa Falcotinnunculus dan Tyto alba, yang semata-mata makanannya tergantung pada rodentia tanah tersebut mengandung residu tinggi, bahkan pada tingkat yang sangat fatal. Sebagai akibatnya, banyak burung-burung pemangsa yang mati. Begitu juga pada binatang jenis kelelawar. Golongan ini ternyata tidak terlepas dari pengaruh pestisida. Dari 31 ekor kelelawar yang diteliti, semuanya mengandung residu senyawa Organochhlorin dengan DDE.

Ambang Ekonomi



Ambang ekonomi adalah kepadatan populasi hama yang memerlukan tindakan pengendalian untuk mencegah peningkatan populasi mencapai tingkat yang merugikan. Penetapan ambang ekonomi dari kerusakan yang ditimbulkan hama dan penyakit tanaman untuk jenis tanaman tertentu yang disebabkan  OPT tertentu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.      Spesifik
Nilai amabang ekonomi yang dibuat hanya untuk satu jenis OPT tertentu yang merusak jenis tanaman tertentu, sehingga nilai amabang ekonomi misalnya untuk kumbang kelapa tidak dapat digunakan untuk jenis hama lainnya pada tanaman yang sama.
2.      Mudah terukur
Parameter yang dipakai harus kuantitatif dan bukan kualitatif, sehingga mudah diukur dan memudahkan pengamatan dilapangan.  Artinya pengukuran dapat dilakukan oleh semua orang dengan semua hasil yang mendekati sama.
3.      Mempertimbangkan OPT dan tanaman.
Nilai ambang ekonomi yang dibuat harus pula mempertimbangkan kecepatan perkembangbiakan OPT dan nilai ekonomis tanaman.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi nilai ambang ekonomi suatu hama, diantaranya jenis tanaman, jenis hama, agroekosistem, pandangan konsumen terhadap komoditas, waktu dan lainnya.  Setiap hama memiliki perbedaan sifat, daya reproduksi, keinginan terhadap kondisi lingkungan yang optimal juga kesenangannya terhadap tanaman.  Usaha untuk mengetahui nilai ambang ekonomi suatu hama dapat ditempuh atas beberapa dasar sebagai berikut:
a.       Atas dasar pengalaman setempat yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama sehingga pengalaman tersebut dapat diyakini kebenarannya bahwa tingkat kepadatan populasi tertentu  bila tidak dikendalikan akan menimbulkan kerugian ekonomi.
b.   Atas dasar ketetapan daerah atau Negara lain jika memang ambang ekonomi untuk daerah tersebut belum ada.
c.    Atas dasar penelitian. Nilai ambang ekonomi hasil penelitian ini dianggap paling baik karena didasarkan atas analisis faktor-faktor penentu daerah tersebut yang secara ilmiah dapat dipertanggung jawabkan,

Langkah-langkah penetapan ambang ekonomi adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan hama utama
2.      Menentukan kepadatan populasi hama
3.      Menetapkan besarnya kerugian tanaman
4.      Mencari hubungan antara kepadatan dan kerusakan
5.      Memperkirakan kerusakan dalam nilai uang
6.      Mencari hubungan antara populasi dengan nilai uang
7.      Memperhitungkan biaya pengendalian per unit area
8.      Menetapkan kepadatan populasi hama yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi setara dengan biaya pengendalian
      9. Tingkat kepadatan populasi yang diperoleh merupakan nilai ambang ekonominya.

Pengendalian Gulma Secara Kimiawi



Teknik pengendalian gulma yang lain adalah pengendalian gulma secara kimia dengan menggunakan herbisida. Penggunaan herbisida dalam pengendalian gulma perlu pengetahuan yang benar mengenai herbisida itu sendiri seperti selektifitasnya pada tanaman dan gulma, waktu aplikasi yang tepat, dosisnya, dan tentunya teknik penyemprotannya pada gulma.
Pelaksanaan pengendalian gulma dengan herbisida jika terjadi kesalahan aplikasi atau dosisnya terlampau tinggi dan tidak selektif akan mengakibatkan keracunan atau dapat mengakibatkan kematian tanaman. Waktu aplikasi herbisida bervariasi sesuai dengan cara kerjanya seperti pra tanam, pra tumbuh, atau pasca tumbuh. Sedangkan sebelum melakukan penyemprotan gulma dengan herbisida perlu dilakukan kalibrasi alat agar herbisida yang disemprotkan dapat diterima merata pada seluruh luasan lahannya.
Pengendalian gulma secara kimia dengan menggunakan herbisida mempunyai kelebihan yaitu lebih menghemat dalam hal waktu pelaksanaan pengendalian dan biaya pengendaliannya yang tidak memerlukan banyak tenaga kerja. Sedangkan kekurangan teknik pengendalian gulma secara kimia menggunakan herbisida yaitu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan terutama terjadinya akumulasi bahan kimia dari herbisida dalam tanah yang mematikan mikroorganisme yang bermanfaat di dalam tanah.
Selain itu juga dapat menimbulkan persistensi atau sifat ketahanan gulma terhadap aplikasi herbisida yang berbahan aktif sama secara terus-menerus. Kekurangan lainnya yaitu aplikasi herbisida tidak dapat dilakukan pada tempat tumbuhnya gulma yang sulit dijangkau dengan alat penyemprot herbisida seperti di seputar lubang tanam atau tajuk tanaman.
Dalam siklus hidup tanaman terdapat periode yang peka terhadap gangguan dari luar atau dalam hal ini peka terhadap gangguan karena adanya gulma yang disebut dengan periode kritis. Adanya gulma dalam jumlah sedikit ataupun dalam jumlah yang banyak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan atau hasil akhir tanaman budidaya.
Oleh karena itu dalam periode kritis tersebut gulma yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya sebaiknya dikendalikan agar tidak memberikan pengaruh yang merugikan pada pertumbuhan dan hasil akhir tanaman budidayanya.
Pengetahuan tentang saat periode kritis suatu tanaman budidaya sangat diperlukan untuk menentukan saat pengendalian gulmanya yang paling tetat agar pengendalian yang dilakukan dapat efektif. Periode kritis tanaman budidaya meliputi beberapa fase pertumbuhan tanaman yaitu awal pertumbuhan, pembentukan promordia bunga, pembungaan dan pembentukan buah serta pembesaran buah.
Pada awal pertumbuhan tanaman dengan adanya gulma dapat menurunkan laju pertumbuhan tanaman budidayanya. Pada fase pembentukan primordia bunga, adanya gulma juga dapat mengurangi atau menurunkan jumlah bunga yang terbentuk pada tanaman budidaya. Sedangkan pada fase pembungaan dan pembentukan buah dengan adanya gulma juga dapat mempengaruhi persentase jumlah bunga yang terbentuk menjadi buah.
Pada fase pembesaran buah dengan adanya gulma akan berpengaruh terhadap kualitas buah yang dihasilkan pada tanaman budidaya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh adanya persaingan gulma dengan tanaman budidaya terutama dalam hal persaingan mendapatkan cahaya, air dan unsur hara. Akibatnya adanya gulma pada periode kritis tanaman budidaya tersebut akan berpengaruh langsung pada pertumbuhan tanamannya.
Pengendalian gulma secara kimia merupakan pengendalian gulma dengan menggunakan bahan kimia yang dapat menekan pertumbuhan atau bahkan yang bisa mematikan gulma.
Bahan kimia tersebut disebut dengan herbisida yang berasal dari kata herba = gulma dan sida = membunuh. Pengendalian gulma dengan cara ini membutuhkan alat penyebar herbisida dan pengetahuan tentang herbisida terutama macam-macamnya agar pengendalian yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. Herbisida yang dipergunakan dalam pengendalian gulma pada lahan pertanian menurut waktu aplikasinya dibedakan menjadi :
  1. Herbisida pra-pengolahan tanah yaitu jenis herbisida yang diaplikasikan pada lahan pertanian sebelum lahan tersebut diolah dan ditumbuhi berbagai jenis vegetasi termasuk gulma, dengan tujuan untuk membersihkan lahan sebelum dilakukan pengolahan tanah, contohnya herbisida berbahan aktif paraquat.
  2. Herbisida pra-tanam yaitu jenis herbisida yang diaplikasikan pada lahan pertanian setelah dilakukan pengolahan tanah dan sebelum lahan tersebut ditanami, dengan tujuan untuk mengendalikan dan mencegah biji maupun organ perbanyakan vegetatif gulma yang terbawa dalam proses pembalikan tanah ke permukaan tumbuh di lahan, contohnya herbisida berbahan aktif triazin dan EPTC.
  3. Herbisida pra-tumbuh yaitu jenis herbisida yang diaplikasikan pada lahan pertanian setelah tanaman ditanam tetapi sebelum tanaman dan gulma tumbuh atau muncul di lahan tersebut, dengan tujuan untuk menekan gulma yang akan tumbuh atau muncul bersama-sama dengan tumbuhnya tanaman budidaya, contohnya herbisida berbahan aktif nitralin.
  4. Herbisida pasca tumbuh yaitu jenis herbisida yang diaplikasikan pada lahan pertanian setelah tanaman budidaya tumbuh di lahan tersebut, dengan tujuan untuk menekan pertumbuhan gulma yang tumbuh setelah tanaman budidaya tumbuh sehingga pertumbuhannya tidak tersaingi oleh gulma, contohnya herbisida berbahan aktif propanil atau MPCA pada padi, herbisida berbahan aktif glyphosat dan dalapon pada karet.
 Berdasarkan cara kerjanya herbisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma pada lahan pertanian dibedakan menjadi :
a.       Herbisida kontak yaitu herbisida yang mematikan gulma dengan cara kontak dengan gulma melalui absorbsi lewat akar maupun daun dan akan merusak bagian gulma yang terkena langsung oleh herbisida tersebut dan tidak ditranslokasikan ke organ bagian gulma yang lain, contohnya herbisida berbahan aktif asam sulfat 70 %, besi sulfat 30 %, tembaga sulfat 40 % dan paraquat.
b.      Herbisida sistemik yaitu herbisida yang mematikan gulma dengan cara ditranslokasikan ke seluruh bagian gulma sehingga pengaruhnya luas. Herbisida ini mematikan gulma dengan cara menghambat fotosisntesis, seperti herbisida berbahan aktif triazin, substitusi urea dan amida, dengan cara menghambat respirasi seperti her bisida berbahan aktif amitrol dan arsen, dengan cara menghambat perkecambahan seperti herbisida berbahan aktif karbamat dan tiokarbamat serta dengan cara menghambat pertumbuhan seperti herbisida berbahan aktif 2, 4 D, dicamba dan picloram.
Pengendalian gulma secara kimiawi menggunakan herbisida memerlukan alat penyebar herbisida pada gulma yang biasanya berupa knapsack sprayer. Penggunaan knapsack sprayer tersebut terutama untuk menyebarkan herbisida berbentuk larutan, emulsi dan bubuk yang dibasahkan. Sedangkan herbisida yang berbentuk butiran atau debu dapat diaplikasikan dengan tangan atau alat pembagi/penghembus sederhana.